Berpikir Berbeda Soal Afghanistan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Kejatuhan Kabul dan Saigon bisa kita katakan sama secara peristiwa sebagai sebuah tragedi kekalahan Amerika Syarikat (AS) dan sekutunya dalam perang yang tidak secara baik mereka selesaikan akibat perubahan visa politik. Namun dalam konteks ruang dan waktu ada perbedaan dalam cara masyarakat menanggapi kejatuhan Saigon dan Kabul pada yang pertama kala itu di tahun 1970-an masyarakat global belum sepenuhnya menjadi produsen dan konsumen dari informasi terkait yang mereka dapat.

Tentu berbeda pada saat kejatuhan Kabul, apalagi ditengah pandemi yang semakin membuat waktu kita lebih lama di depan layar untuk menjadi prosumen yang pro terkait kejatuhan ini. Dampak dari sikap prosumen ini seringkali tidak dibarengi dengan literasi yang memadai terhadap game politics, akibatnya kita cenderung pro maupun kontra dengan opini yang kita bangun dari fondasi-fondasi kebencian, glorifikasi dan euphoria.

Game Politik tentunya memainkan peranan dalam menguatkan kerapuhan fondasi beropini yang tidak berujung ini, ironisnya permainan politik ini sebenernya hanya melibatkan sedikit pemain yang tujuannya cuman buat menguasai manusia lain agar sibuk memperdebatkan yang dangkal sementara mereka merebut resources yang vital.

Perasaan euphoria di pihak pro dibenturkan dengan perasaan ketakukan di pihak kontra, sehingga kita melihat kejatuhan Kabul secara abu-abu. Padahal terjebak pada dikotomi Government is good vs Taliban is bad nyatanya keliru. Fakta objektif jika pemerintahan Afganistan yang identik dengan boneka asing telah melakukan korupsi yang luar biasa, tidak bisa kita bantah, maka tidak heran kenapa tentara Afghanistan bisa begitu cepatnya collapse hanya dalam waktu hitungan hari.

Dari segi geopolitik, seperti sudah lagu lama tentang cara AS dan sekutunya masuk ke negara orang lain “atas nama demokrasi” terus memasang presiden yang ramah sama kepentingannya. Kita harus akui, it works on some part seperti bagaimana Soeharto bisa memimpin 32 tahun dan eratnya kerja sama dengan AS. Sehingga membuat mereka Balik modal dengan sangat cepat bahkan AS kemudian menyebut Indonesia itu teman yang ramah karena tentunya kepentingan modal mereka terhadap kita sangat besar yang ironisnya tidak mendatangkan kemakmuran sampai hari ini.

Ada paradoks juga yang dibawa oleh AS dan sekutu yaitu perihal respon terhadap pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia), ada jejak dimana AS yang mempromosikan demokrasi justru diam ketika pelanggaran HAM terjadi di era Soeharto, bahkan Noam Chomsky intelektual publik asal AS itu yang pandangan seringkali dimusuhi oleh pihak penguasa membenarkan pola-pola yang sama terjadi di Filipina, Iran, Kuba, El Salvador dan masih banyak lagi.

Dan pola yang sama ini mau dibuat di Afghanistan tapi sayangnya gagal sama seperti di Vietnam. They have everything to die for, tanah mereka, loyalitas pada ideologi dan garis pimpinan, dan agama mereka dalam konteks Afghanistan. Singkat cerita, proyek mereka akan selalu gagal di tempat yang memili root perjuangan yang kuat. Meskipun AS bisa memberikan uang dan senjata buat melatih dan merekrut banyak orang Afghanistan jadi tentara dan polisi, tapi ingat mereka tidak punya alasan kuat mengapa mereka harus mati untuk “negara boneka”.

Bahkan Ashraf Ghani saja yang jadi presiden duluan kabur. Buat saya literally nobody really care about “nationalism” on USA made government. Semua akan kembali pada urusan perut masing-masing. Jangan heran ketika Taliban menguasai Afghanistan, semua pada lari meninggalkan peralatan perang yang super canggih itu . Apalagi di saat yang bersamaan AS yang mengucurkan dana sudah pergi terlebih dahulu bahkan mereka meninggalkan kem Bagram yang merupakan kem terbesar mereka di Afghanistan tanpa memberitahu pihak Afghanistan sebulan yang lalu.

Kalau kita menonton dokumter dari Rory Stewart yang judulnya The Great Game, AS dan sekutunya yang mempromosikan demokrasi dengan nilai-nilai kemanusiaan itu justru memiliki trik dalam membela pelanggaran HAM selama si pelanggar itu sekutu terhadap mereka , tapi kalau kepentingan bersebrangan mereka akan ciptakan dikotomi “ Si A jahat si B baik” dan dikotomi itu akan bergeser seiring waktu seperti saat mereka mendukung pejuang Taliban kala melawan Soviet dulu.

Lalu bagaimana sebaiknya respon kita dengan Taliban sekarang?

Seiring dengan kedekatannya dengan China dan Rusia yang notabene musuh dari AS, kita perlu berhati-hati dalam mengambil sikap baik pro maupun kontra secara terang-terangan sebaiknya yang perlu kita lakukan sekarang lebih memperbanyak literasi perihal game politik dan geopolitik agar bisa belajar lebih banyak strategi dan lihat kepentingan siapa dibalik apa dalam soal Afghanistan ini?

(Artikel ini adalah tulisan saudara Mansurni Abadi dan tidak semestinya mewakili pandangan pihak Solidaritas)

Komen