Bala Bila Fikiran Terkorup

SEMASA menyoroti rak demi rak buku di Sosial Agensi, sebuah gedung buku yang terletak di Yogyakarta, saya berjaya menemukan satu pantun yang dikarang oleh W.S Rendra mengenai korupsi. Pantunnya berbunyi begini:

Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi

Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari

Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan

Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga

Hio… Hio… Hio… Hio…

Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan

Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?

Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga

Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri

Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…

Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje….

Perlawanan soal penyalahgunaan kuasa (power abuse) sebenarnya sudah lama bergemencar, malah sejak zaman Nabi Muhammad juga para sahabatnya. “Meskipun kejahatan harta publik pada masa Rasullulah s.a.w masih belum canggih dan dampaknya pun belum masif, Rasullulah s.a.w telah memberikan saksi moral yang cukup berat, iaitu tidak cukup mensolati jenazah seseorang yang pada masa hidupnya terbukti melakukan ghulul atau penggelapan harta rampasan perang sebagaimana hadis yang dikeluarkan oleh Abu Dawud.”1

Tidak cukup dengan itu Syed Hussien Alatas dalam bukunya Rasuah: Sifat, Sebab Dan Fungsi menyatakan pendirian terhadap perasuah: “Undang-undang manu menetapkan bahawa seorang raja tidaklah serakah, tidak memeras dalam memungut cukai. Dia mestilah melantik pegawai yang jujur dalam memungut cukai. Raja yang menindas rakyatnya hendaklah dibunuh bersama-sama anggota keluarganya. Para pegawai yang rasuah, yang menerima wang sogok daripada orang-orang desa hendaklah dibuang negeri dan harta mereka disita.”2

Kedua-dua bukti ini jelas menunjukan bahawa pemikir juga Rasul menolak sama sekali kegiatan rasuah. Namun kebimbangan hadir bila bukan saja korupsi itu hadir pada material tetapi pada pemikiran.

Pemikiran Yang Terkorupsi

Pemikiran yang terkorupsi adalah pemikiran yang tidak dapat membezakan apa itu korup. Ini terjadi apabila penganutnya menghalalkan korupsi dari berleluasa sehingga menjejaskan masyarakat. Ada tiga ciri manusia yang pemikirannya sudah terkorupsi.

1. Menyanjung para koruptor
Dalam setiap perkara yang berlaku dalam dunia sudah tentu ada aktor dibelakangnya, begitu juga korupsi aktornya digelar koruptor. Manusia yang pemikirannya sudah terkorup dengan jelas tanpa segan silu mempertahankan sang koruptor. Mungkin kerana mereka sebahagian yang menerima manfaat atau kerana sikap feudalnya yang menebal seperti yang terlihatkan dalam sejarah, asalkan saja namanya elit harus dihormati tanpa dipersoal. Inilah nanti yang akan mengakibatkan pipi para koruptor menjadi tebal, tebal untuk menjadi korup lagi. Kata Theodore Roosevelt “A man who has never gone to school may steal a freight car; but if he has a university education, he may steal the whole railroad.”

2. Menganggap korupsi itu dosa individu
“Alah tak apa, dosa itu antara dia dengan tuhan bukan urusan kita.” Nah inilah yang diluah oleh manusia yang sudah terkorupsi pemikirannya masakan mereka dengan pantas mengatakan bahawa dosa korupsi itu dosa individu? Sedangkan kesan korupsi itu membarah sehinggalah ke wanita, warga tua, orang kurang upaya malah kanak-kanak. Bagaimana boleh dikata dosa korupsi itu hanya terkesan buat individu? Seperti yang dijelaskan dalam buku NU Melawan Korupsi “Pada zaman Rasullulah saw, amanah atau sesuatu yang dipercayakan pada seseorang tidak hanya dihayati sebagai kewajiban antara manusia, melainkan juga kewajiban yang harus dipertanggung jawabkan pada Allah. Pengkhianatan terhadap terhadap amanah meskipun dengan nilai yang relatif kecil dibandingkan dengan nilai pengkhianatan pada masa kini, dapat menyulut amarah Rasullulah saw. Dan hal ini dipandang sebagai pengkhianatan secara langsung pada Allah dan Rasul-nya.”

3. Korupsi bukan masalah utama
Kita boleh membela koruptor tapi tak sedar ia merupakan sebuah bala pada kemanusiaan dan keimanan kita bila kita terima korupsi tak perlu diserang dan yang perlu kita serang benda yang tetek bengek. Isu tetek bengek ini semisal isu-isu yang berkaitan simbol-simbol. Tanjak misalnya, atau mungkin rehal atau buku di bangunan Dewan Bahasa dan Pustaka, atau perempuan yang baik itu harus memakai tudung ataupun tidak. Tidak ada perbincangan yang serius berlaku mengenai korupsi, dari masyarakat sehinggalah ke media. Kesemuanya mensenyapkan diri seolah-olah korupsi itu isu taboo atau larangan untuk disentuh dan dibincangkan. Malah universiti yang digelar sebagai gedung ilmu pun tidak mengeluarkan pendirian moral mereka terhadap korupsi atas alasan semangat “keneutralan”. Maka dalam diam, terhakis akal rasional kita lalu digantikan dengan minda korup.

Kesimpulan

Korupsi tidak pernah baik dan tidak akan baik. Seharusnya kita semua sudah ada satu suara moral yang sama mengatakan bahawa korupsi adalah perkara yang busuk dan memualkan. Walau siapa pun para koruptor, tidak perlu kita apologetik terhadap mereka. Kerana mereka anak, ibu, ayah, juga masyarakat kita tersiksa. Kerana korupsi akan merebak disegenap arah baik badan berkanun, pentadbiran, sekolah mahupun kesihatan. “Waspada menerima sogokan; sogokan dapat membutakan mata orang, walaupun dia seorang yang bijaksana dan menggangu keputusan, walaupun dia seorang yang adil.”3

1 Moh. Masyuri Na’im et.al (ed), NU Melawan Korupsi Kajian Tafsir & Fiqh. Jakarta: Kemirtaan Partnership, 2006. h. 125.

2 Syed Hussien Alatas, Rasuah: Sifat, Sebab Dan Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2016, h. 3.

3 Dipetik dari R. A Knoxx, The Old Testament. dlm Syed Hussien Alatas, Rasuah: Sifat, Sebab Dan Fungsi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2016, h. 2.

Komen